Jika kita mencoba mencari kata jalan di dalam kamus besar Bahasa Indonesia maka definisi yang muncul pertama kali adalah tempat lalu lintas orang maupun kendaraan, kemudian diikuti berbagai definisi lain yang berjumlah lebih dari sepuluh macam. Jika ditarik satu garis, maka definisi jalan ini adalah bahwa dia adalah sarana yang menghubungkan titik awal kepada titik tujuan, yng mana ia selalu akan dilalui ketika seseorang ingin mencapai titik tujuan. Taruhlah kita sebut jalan raya, maka ia menghububgkan kota A dan kota B. Dimana ketika seseorang berasal dari kota A menuju kota B, maka ia akan melewatinya. Atau yang kita sebut dengan Jalan Hidup maka ia menghubungkan dua buah titik yang dinamakan lahir dan mati (lazimnya jalan hidup hanya dinisbatkan pada kehidupan di dunia). Demikianlah hakikat sebuah jalan.
Hari ini, dalam perjalanan pekanan saya ke depok, saya menemui kondisi yang sudah barang tentu tak asing lagi bagi masyarakat indonesia, MACET. Dalam perjalanan kurang lebih 2 jam saya menemui kemacetan 2 term. Pertama, pada jalanan kampung cibubur-cisalak. Jika ditelusuri, penyebab kemacetan adalah sempitnya jalan. Jalanan kampung ini sangat mepet bila terjadi papasan dua mobil dari arah yang berlawanan. Jalannya memang sudah di cor beton, tapi pembangunannya sungguh tidak memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna. Terdapat kesenjangan ketinggian yang kentara antara badan jalan dan bahu jalan. (Bayangkan tebal cor beton jalanan, mungkin sekitar 30cm diatas tanah,sedangkan bagian bahu jalan masi tanah, jika terperosok sangat berbahaya bukan?). Disamping itu, jalan masuk ke gang dibuat kotak. Jadi cor betonnya memang benar2 dibuat seperti huruf T ( dgn kondisi seperti ini akan sangat berbahaya bagi mobil yang akan berbelok masuk gang, mengingat adanya kesenjangan tinggi permukaan). Ketika terjadi macet di jalanan ini maka kemungkinan besar penyebabnya ada dua, mobil yang harus sangat hati hati ketika papasan dengan mobil lain dan mobil yang terperosok ketika masuk atau keluar gang.
Kemacetan term kedua terjadi di sepanjang Jalan Raya Bogor. Bagi para penduduk depok pastinya sudah hafal dengan kondisi kemacetan ruas jalan ini. Secara fisik, sebenarnya jalan ini cukup lebar, pun sudah ada pembatas jalan untuk arah yang berlawanan. Akan tetapi, rupanya jalan yang ckup lebar ini tetap tak mampu menampung jumlah kendaraan yg semakin membludak. Kemacetan diperparah dengan adanya atau mungkin banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan bahkan memakan badan jalan, angkot yang ngetem, serta pengendara motor yang menyusup dan menyalip dari kanan maupun kiri.
Akibat dari kemacetan ini adalah terhambatnya laju para pengguna jalan menuju tempat tujuan. Akibat yang lain mungkin tingkat stress yang tinggi, darah yang naik sampai ubun ubun sehingga mudah tersinggung.
Jika jalan tersebut dianalogikan dengan jalan kehidupan kita, maka anggaplah tempat asal kita adalah kelahiran, tempat tujuannya adalah kematian. Tempat asal adalah Allah, kembali pun ke Allah. Perjalanan hidup kita adalah segala sesuatu yang kita lalui di dunia hingga akhir menutup mata. Layaknya jalan raya, akan sangat mungkin perjalanan kita menuju Allah pun akan sangat mungkin mengalami kemacetan. Penyebabnya mungkin bermacam macam. Bisa jadi jalan itu memang sempit, rusak disana sini. Bisa jadi Allah memang memberikan pada kita begitu banyak ujian di perjalanan kita. Ujian kesenangan maupun kesedihan. Mungkin Allah berikan kita ujian kesedihan. Berbagai masalah, Kehilangan hal yang dicintai. Dengan jalan yang jelek dan sempit itu, kadang para pengguna jalan banyak mengeluh,mengumpat, sehingga membuat Allah tidak suka. Bukankah Allah telah sampaikan bahwa
Dan sungguh akan Kami berikan kepadamu cobaan dengan sedikit ketakutan, kelaparan,
kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berilah kabar gembira pada orang orang yang sabar. (Q.S Al Baqoroh: 155)
Jadi Allah ingin menguji kita, adakah memang kita adalah orang yang benar benar ingin menujuNya? Atau hanya akan berbalik arah di tengah jalan, atau tidak berbalik arah tp terus melaju dengan berbagai macam keluh kesah?
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka itu dibiarkan (saja) mengatakan bahwa “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? …. (QS Al ankabut :2)
Atau mungkin sebenarnya Allah sudah melapangkan jalan hidup seseorang. Tapi dia merasa terlena dan tidak bersegera. Sembarangan parkir di bahu jalan. Menghalangi pengguna jalan lain. Allah telah memudahkan jalan hidup kita dengan segala nikmat dan karuniaNya. Tapi kita bermalas malasan. Justru semakin merasa nyaman dengan segala nikmat dan melupakanNya. Atau sengaja melanggar ketentuan yang arus dipenuhi layaknya orang yang berada di jalan. Na’udzubillah
Kondisi kita bisa jadi berbeda satu sama lain, ada yang dikaruniai kelapangan, ada yang diberikan kesempitan. Tapi kita harus benar benar memahami bahwa diujung jalan ini, ada tujuan yang kita rindukan, Allah. Bahwa kita harus berbalapan menujuNya, berbalapan dengan santun,tidak merugikan pengguna jalan lain.
Yakinlah bahwa Allah tak menciptakan segala sesuatu dengan sia sia.
Rabbanaa maa khalaqta hadza bathila..
Seberapa sedih ataupun seberapa bahagia kita saat ini, ingatlah bahwa tujuan akhir kita adalah Allah. Boleh jadi hal yang membuat kita sangat sedih hari ini, kelak akan menjadi hal yang bahkan terasa kecil untuk dikhawatirkan. Boleh jadi hal yang membuat kita sangat bahagia hari ini, kelak hanya bisa kita hadirkan dalam kenangan.
Every second is counted. Every feeling, everything’s counted






