Seni Sebuah Jalan

image

image

Jika kita mencoba mencari kata jalan di dalam kamus besar Bahasa Indonesia maka definisi yang muncul pertama kali adalah tempat lalu lintas orang maupun kendaraan, kemudian diikuti berbagai definisi lain yang berjumlah lebih dari sepuluh macam. Jika ditarik satu garis, maka definisi jalan ini adalah bahwa dia adalah sarana yang menghubungkan titik awal kepada titik tujuan, yng mana ia selalu akan dilalui ketika seseorang ingin mencapai titik tujuan. Taruhlah kita sebut jalan raya, maka ia menghububgkan kota A dan kota B. Dimana ketika seseorang berasal dari kota A menuju kota B, maka ia akan melewatinya. Atau yang kita sebut dengan Jalan Hidup maka ia menghubungkan dua buah titik yang dinamakan lahir dan mati (lazimnya jalan hidup hanya dinisbatkan pada kehidupan di dunia). Demikianlah hakikat sebuah jalan.
Hari ini, dalam perjalanan pekanan saya ke depok, saya menemui kondisi yang sudah barang tentu tak asing lagi bagi masyarakat indonesia, MACET. Dalam perjalanan kurang lebih 2 jam saya menemui kemacetan 2 term. Pertama, pada jalanan kampung cibubur-cisalak. Jika ditelusuri, penyebab kemacetan adalah sempitnya jalan. Jalanan kampung ini sangat mepet bila terjadi papasan dua mobil dari arah yang berlawanan. Jalannya memang sudah di cor beton, tapi pembangunannya sungguh tidak memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna. Terdapat kesenjangan ketinggian yang kentara antara badan jalan dan bahu jalan. (Bayangkan tebal cor beton jalanan, mungkin sekitar 30cm diatas tanah,sedangkan bagian bahu jalan masi tanah, jika terperosok sangat berbahaya bukan?). Disamping itu, jalan masuk ke gang dibuat kotak. Jadi cor betonnya memang benar2 dibuat seperti huruf T ( dgn kondisi seperti ini akan sangat berbahaya bagi mobil yang akan berbelok masuk gang, mengingat adanya kesenjangan tinggi permukaan). Ketika terjadi macet di jalanan ini maka kemungkinan besar penyebabnya ada dua, mobil yang harus sangat hati hati ketika papasan dengan mobil lain dan mobil yang terperosok ketika masuk atau keluar gang.
Kemacetan term kedua terjadi di sepanjang Jalan Raya Bogor. Bagi para penduduk depok pastinya sudah hafal dengan kondisi kemacetan ruas jalan ini. Secara fisik, sebenarnya jalan ini cukup lebar, pun sudah ada pembatas jalan untuk arah yang berlawanan. Akan tetapi, rupanya jalan yang ckup lebar ini tetap tak mampu menampung jumlah kendaraan yg semakin membludak. Kemacetan diperparah dengan adanya atau mungkin banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan bahkan memakan badan jalan, angkot yang ngetem, serta pengendara motor yang menyusup dan menyalip dari kanan maupun kiri.
Akibat dari kemacetan ini adalah terhambatnya laju para pengguna jalan menuju tempat tujuan. Akibat yang lain mungkin tingkat stress yang tinggi, darah yang naik sampai ubun ubun sehingga mudah tersinggung.

Jika jalan tersebut dianalogikan dengan jalan kehidupan kita, maka anggaplah tempat asal kita adalah kelahiran, tempat tujuannya adalah kematian. Tempat asal adalah Allah, kembali pun ke Allah. Perjalanan hidup kita adalah segala sesuatu yang kita lalui di dunia hingga akhir menutup mata. Layaknya jalan raya, akan sangat mungkin perjalanan kita menuju Allah pun akan sangat mungkin mengalami kemacetan. Penyebabnya mungkin bermacam macam. Bisa jadi jalan itu memang sempit, rusak disana sini. Bisa jadi Allah memang memberikan pada kita begitu banyak ujian di perjalanan kita. Ujian kesenangan maupun kesedihan. Mungkin Allah berikan kita ujian kesedihan. Berbagai masalah, Kehilangan hal yang dicintai. Dengan jalan yang jelek dan sempit itu, kadang para pengguna jalan banyak mengeluh,mengumpat, sehingga membuat Allah tidak suka. Bukankah Allah telah sampaikan bahwa

Dan sungguh akan Kami berikan kepadamu cobaan dengan sedikit ketakutan, kelaparan,

kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berilah kabar gembira pada orang orang yang sabar. (Q.S Al Baqoroh: 155)

Jadi Allah ingin menguji kita, adakah memang kita adalah orang yang benar benar ingin menujuNya? Atau hanya akan berbalik arah di tengah jalan, atau tidak berbalik arah tp terus melaju dengan berbagai macam keluh kesah?

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka itu dibiarkan (saja) mengatakan bahwa “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? …. (QS Al ankabut :2)

Atau mungkin sebenarnya Allah sudah melapangkan jalan hidup seseorang. Tapi dia merasa terlena dan tidak bersegera. Sembarangan parkir di bahu jalan. Menghalangi pengguna jalan lain. Allah telah memudahkan jalan hidup kita dengan segala nikmat dan karuniaNya. Tapi kita bermalas malasan. Justru semakin merasa nyaman dengan segala nikmat dan melupakanNya. Atau sengaja melanggar ketentuan yang arus dipenuhi layaknya orang yang berada di jalan. Na’udzubillah
Kondisi kita bisa jadi berbeda satu sama lain, ada yang dikaruniai kelapangan, ada yang diberikan kesempitan. Tapi kita harus benar benar memahami bahwa diujung jalan ini, ada tujuan yang kita rindukan, Allah. Bahwa kita harus berbalapan menujuNya, berbalapan dengan santun,tidak merugikan pengguna jalan lain.
Yakinlah bahwa Allah tak menciptakan segala sesuatu dengan sia sia.

Rabbanaa maa khalaqta hadza bathila..

Seberapa sedih ataupun seberapa bahagia kita saat ini, ingatlah bahwa tujuan akhir kita adalah Allah. Boleh jadi hal yang membuat kita sangat sedih hari ini, kelak akan menjadi hal yang bahkan terasa kecil untuk dikhawatirkan. Boleh jadi hal yang membuat kita sangat bahagia hari ini, kelak hanya bisa kita hadirkan dalam kenangan.

Every second is counted. Every feeling, everything’s counted

Iklan

Seni Sebuah Jalan

image

image

Jika kita mencoba mencari kata jalan di dalam kamus besar Bahasa Indonesia maka definisi yang muncul pertama kali adalah tempat lalu lintas orang maupun kendaraan, kemudian diikuti berbagai definisi lain yang berjumlah lebih dari sepuluh macam. Jika ditarik satu garis, maka definisi jalan ini adalah bahwa dia adalah sarana yang menghubungkan titik awal kepada titik tujuan, yng mana ia selalu akan dilalui ketika seseorang ingin mencapai titik tujuan. Taruhlah kita sebut jalan raya, maka ia menghububgkan kota A dan kota B. Dimana ketika seseorang berasal dari kota A menuju kota B, maka ia akan melewatinya. Atau yang kita sebut dengan Jalan Hidup maka ia menghubungkan dua buah titik yang dinamakan lahir dan mati (lazimnya jalan hidup hanya dinisbatkan pada kehidupan di dunia). Demikianlah hakikat sebuah jalan.
Hari ini, dalam perjalanan pekanan saya ke depok, saya menemui kondisi yang sudah barang tentu tak asing lagi bagi masyarakat indonesia, MACET. Dalam perjalanan kurang lebih 2 jam saya menemui kemacetan 2 term. Pertama, pada jalanan kampung cibubur-cisalak. Jika ditelusuri, penyebab kemacetan adalah sempitnya jalan. Jalanan kampung ini sangat mepet bila terjadi papasan dua mobil dari arah yang berlawanan. Jalannya memang sudah di cor beton, tapi pembangunannya sungguh tidak memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna. Terdapat kesenjangan ketinggian yang kentara antara badan jalan dan bahu jalan. (Bayangkan tebal cor beton jalanan, mungkin sekitar 30cm diatas tanah,sedangkan bagian bahu jalan masi tanah, jika terperosok sangat berbahaya bukan?). Disamping itu, jalan masuk ke gang dibuat kotak. Jadi cor betonnya memang benar2 dibuat seperti huruf T ( dgn kondisi seperti ini akan sangat berbahaya bagi mobil yang akan berbelok masuk gang, mengingat adanya kesenjangan tinggi permukaan). Ketika terjadi macet di jalanan ini maka kemungkinan besar penyebabnya ada dua, mobil yang harus sangat hati hati ketika papasan dengan mobil lain dan mobil yang terperosok ketika masuk atau keluar gang.
Kemacetan term kedua terjadi di sepanjang Jalan Raya Bogor. Bagi para penduduk depok pastinya sudah hafal dengan kondisi kemacetan ruas jalan ini. Secara fisik, sebenarnya jalan ini cukup lebar, pun sudah ada pembatas jalan untuk arah yang berlawanan. Akan tetapi, rupanya jalan yang ckup lebar ini tetap tak mampu menampung jumlah kendaraan yg semakin membludak. Kemacetan diperparah dengan adanya atau mungkin banyaknya kendaraan yang parkir di bahu jalan bahkan memakan badan jalan, angkot yang ngetem, serta pengendara motor yang menyusup dan menyalip dari kanan maupun kiri.
Akibat dari kemacetan ini adalah terhambatnya laju para pengguna jalan menuju tempat tujuan. Akibat yang lain mungkin tingkat stress yang tinggi, darah yang naik sampai ubun ubun sehingga mudah tersinggung.

Jika jalan tersebut dianalogikan dengan jalan kehidupan kita, maka anggaplah tempat asal kita adalah kelahiran, tempat tujuannya adalah kematian. Tempat asal adalah Allah, kembali pun ke Allah. Perjalanan hidup kita adalah segala sesuatu yang kita lalui di dunia hingga akhir menutup mata. Layaknya jalan raya, akan sangat mungkin perjalanan kita menuju Allah pun akan sangat mungkin mengalami kemacetan. Penyebabnya mungkin bermacam macam. Bisa jadi jalan itu memang sempit, rusak disana sini. Bisa jadi Allah memang memberikan pada kita begitu banyak ujian di perjalanan kita. Ujian kesenangan maupun kesedihan. Mungkin Allah berikan kita ujian kesedihan. Berbagai masalah, Kehilangan hal yang dicintai. Dengan jalan yang jelek dan sempit itu, kadang para pengguna jalan banyak mengeluh,mengumpat, sehingga membuat Allah tidak suka. Bukankah Allah telah sampaikan bahwa

Dan sungguh akan K

ami berikan kepadamu cobaan dengan sedikit ketakutan, kelaparan,

kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan berilah kabar gembira pada orang orang yang sabar. (Q.S Al Baqoroh: 155)

Jadi Allah ingin menguji kita, adakah memang kita adalah orang yang benar benar ingin menujuNya? Atau hanya akan berbalik arah di tengah jalan, atau tidak berbalik arah tp terus melaju dengan berbagai macam keluh kesah?

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka itu dibiarkan (saja) mengatakan bahwa “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? …. (QS Al ankabut :2)

Atau mungkin sebenarnya Allah sudah melapangkan jalan hidup seseorang. Tapi dia merasa terlena dan tidak bersegera. Sembarangan parkir di bahu jalan. Menghalangi pengguna jalan lain. Allah telah memudahkan jalan hidup kita dengan segala nikmat dan karuniaNya. Tapi kita bermalas malasan. Justru semakin merasa nyaman dengan segala nikmat dan melupakanNya. Atau sengaja melanggar ketentuan yang arus dipenuhi layaknya orang yang berada di jalan. Na’udzubillah
Kondisi kita bisa jadi berbeda satu sama lain, ada yang dikaruniai kelapangan, ada yang diberikan kesempitan. Tapi kita harus benar benar memahami bahwa diujung jalan ini, ada tujuan yang kita rindukan, Allah. Bahwa kita harus berbalapan menujuNya, berbalapan dengan santun,tidak merugikan pengguna jalan lain.
Yakinlah bahwa Allah tak menciptakan segala sesuatu dengan sia sia.

Rabbanaa maa khalaqta hadza bathila..

Seberapa sedih ataupun seberapa bahagia kita saat ini, ingatlah bahwa tujuan akhir kita adalah Allah. Boleh jadi hal yang membuat kita sangat sedih hari ini, kelak akan menjadi hal yang bahkan terasa kecil untuk dikhawatirkan. Boleh jadi hal yang membuat kita sangat bahagia hari ini, kelak hanya bisa kita hadirkan dalam kenangan.

Every second is counted. Every feeling, everything’s counted

Sang Murabbiyah

image

‘Yoyoh Yusroh, Mutiara yang Telah Tiada’
Apakah Anda sudah membaca buku ini? Jika belum maka saya merekomendasikan untuk membaca buku ini terutama bagi kalangan muslimah. Wa bil khusus para muslimah yang mempunyai mimpi dan cita cita besar untuk islam, diri dan keluarga. Mengapa demikian? Di dalam buku ini sungguh telah banyak dipaparkan bagaimana seorang Yoyoh Yusroh menjalani kehidupannya yang sangat extraordinary. Ya, Bunda Yoyoh adalah seorang muslimah dengan paras biasa, namun memiliki kekuatan ruhani, ketajaman berfikir, keluwesan memimpin yang luar biasa. Dengan kesibukan beliau swbagai seorang anggota parlemen dan aktif di berbagai macam yayasan, Bunda Yoyoh tak pernah lalai dalam menyiapkan generasi terbaik untuk umat ini. Lihatlah 13 anaknya kini tumbuh menjadi agen2 luar biasa untuk dakwah.
Bagaimana beliau menjaga Allah, menjaga Al Qur’an semua dipaparkan dalam buku ini. Setiap kesehariannya adalah istimewa. Bagaimana beliau menjaga makanan yang dikonsumsi, seberapa ringan tangan beliau untuk membantu sesama, betapa perhatian beliau kepada orang lain, sikap santun dan terencana beliau dalam segala hal, menjaga kebersihan. Sungguh, beliau tmengajarkan betapa sebagai seorang muslimah, kita harus mengikuti Rasulullah dan para ummahatul mukminin, Sebagai seorang da’i kita harus berdakwah melalui dan dengan seluruh aspek dalam hidup kita. Beliau mengajarkan bahwa dakwah bukanlah sekedar kerja kerja formal, tapi ia adalah karakter dan kepribadian.
Maka mungkin memang tak terlalu berlebihan bila ibu wirianingsih menyebutnya “Generasi shahabiyat telah hidup kembali pada masa kini, abad 21”
Maka akhirnya kini Engkau telah tersenyum menemuiNya, dan kini memang telah tiba masanya bagimu untuk beristirahat.
“kita berjuang untuk umat. Berjuang capek capek, nanti istirahat di surga. Makanya tidurnya sedikit” (Yoyoh Yusroh)

Selamat jalan ummi.

Ngayogyakarta Hadiningrat

Kampung halaman selalu identik dengan tempat lahir, tempat asal. Sehingga sangatlah umum ketika ditanyakan tentang kampung halaman maka sebagian besar orang akan menyebut tempat lahir, tempat tinggal orang tua. Tapi selain tempat lahir, saya mempunyai kampung halaman kedua. Bukan tempat sya tumbuh besar memang, tapi tempat saya menemukan siapa diri saya dan akan dibangun menjadi apa diri ini. Tak lain tak bukan tempat itu adalah Yogyakarta. Ketika akan menuju jogja, saya akan mengatakan pulang ke jogja meskipun saya tidak memiliki tempat tinggal di sana, pun orang tua saya tidak tinggal di sana. Tapi begitulah, jogja adalah rumah saya.
Maka ketika ada kesempatan mengunjungi jogja, hati saya otomatis akan berseru-seru bahagia seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru dari orang tuanya. Sehingga kunjungan ke jogja selalu istimewa. Setiap warung makan, ruas jalan, bau tanah, suara burung, tetesan air, peristiwa, semuanya….semuanya akan membawa saya ke memori pada masa masa tinggal di jogja. Mungkin agak berlebihan saya menyebutkannya, tp memang begitulah. Segala sesuatu bisa memunculkan kembali emosi dalam jiwa, tak heran kadang saya bisa senyum senyum sendiri ketika menginjakkan kaki di satu titik di jogja.
Begitulah jogja. Dan anehnya, setiap meninggalkan jogja selalu saja ada yang saya dapatkan kembali dari kota ini, entah secuil semangat, ilmu, apapun. Maka bagi saya jogja adalah rumah. Dimana setiap saya pulang, saya akan mendapatkan ketentraman.
Begitupun kepulangan saya ke jogja akhir pekan kemarin. Ya, saya pulang ke jogja untuk menghadiri pernikahan seorang sahabat dekat. Tapi tentu saja bukan hanya itu yang sya lakukan. Mulai dari menyusuri bringharjo, berjam jam di toko buku, bertemu teman2 dekat, ke salon, dll. Dan yang paling istimewa adalah menhadiri mehasabah tahun baru di masjid nurul ashri bersama Ust. Syatori.
Saya ingat betul, dlu jamaah di masjid ini masih sangat sedikit. Ketika kajian tafsir pagi hari sepanjang Ramadhan, yg hadir pun tak lebih dari dua shaf saja. ( ini akhwatnya, sya g liat bagian ikhwan). Kemudian secara periodik sering diadakan kajian di masjid ini. Lama lama menjadi kajian rutin. Kemudian acara acara besar mulai diselenggarakan disini. Dan acara muhasabah tahun baru kemarin seolah olah menjadi pelepas rindu bagi saya akan suasana kajian di jogja. Luar biasa. Ya, tentu bagi saya kajian kali ini tidak biasa. Sudah sekian lama, hampir satu tahun meninggalkan jogja dn akhirnya saya merasakannya kembali. Ini luar biasa. Ketidakbiasaan ini ditambah dengan bertemunya saya dengan para sahabat dekat yang kini menjadi santri mukim di Rumah Quran. Bagi mereka mungkin biasa saja bertemu saya, hanya sekedar melepas rindu setelah lama tak jumpa. Tapi bagi saya tidak. Bertemu mereka membuat rasa haru membuncah di hati saya. Sungguh, tetes air mata haru mengalir di dinding hati saya. Melihat beberapa sahabat yang dlunya adalah teman sepermainan kini mata mereka tajam berhiaskan Qur’an. Jujur saya merasa sangat iri. Betapa mereka sudah sangat cepat melesat dalam arena balap kami menuju Rabb Penggenggam alam semesta. Dlu saya terbiasa curhat dengan mereka, saling meledek, saling menjatuhkan, tak jarang bisa benar benar berkelahi seperti anak anak. Tapi kini, tidak. Tidak sama lagi kondisinya. Menatap mata mereka membuat hati ini buncah oleh rasa haru. Tanpa mereka sadari mungkin, mereka menguatkan saya kembali. Tatapan mata itu, senyuman itu, pelukan itu, mereka menguatkan saya tanpa kata kata. Mereka memberikan bekal semangat yang cukup bagi saya, hingga saat saya kembali, saya merasakan atmosfer perjuangan mereka. Terimakasih saudaraku. Dan inilah yang saya sebut dengan pulang kampung (tentunya selain sya menemui orang tua).
Bukankah ketika kita sedang di perantauan kemudian pulang, maka setelah kembali kita akan merasa tenteram karena cinta, karena rasa rindu sudah terobati, karena kita membawa bekal yang

cukup

. Maka saya rasakan itu pula setiap kembali dari jogja, bertemu dengan “keluarga”.

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna

Aaaahhhh….lagu itu indah sekali mengalun. 🙂

Cileungsi, 30 November 2011

Gift

image

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata ini,gift?
Mungkin ada sunggingan senyum di bibir anda membayangkan keindahan sebah hadiah. Mungkin ada pancaran cahaya di mata anda tak bisa sembunyikan hembusan perasaan bahagia. Ya, begitulah memang tabiat sebuah hadiah. Indah, membahagiakan, dicintai. Terkadang saking cintanya pada sebuah hadiah kita lupa melihat siapa yang memberikan. Tak diingat lagi dengan tujuan apa seseorang memberikan hadiah itu kepada kita. Karena dokus kita pada hadiah itu. Karena yang kita tahu hanyalah bahwa sekarang hadiah itu sudah menjadi milik kita, sudah berada di tangan kita. Kemudian merasa tidak bisa kehilangan, padahal kehidupan akan terus berjalan, pun ketika kita kehilangan hadiah itu. Karena sejatinya, ia bukan kebutuhan pokok kita. Dia tidak seperti udara yang tanpanya paru paru ini tak bisa bernafas.
Demikian pula dengan diri kita. Begitu banyak “hadiah” yang Allah berikan. Coba lihat di tubuh kita saja banyak hal yang diberikan. Panca indera, alat gerak kita. Itu hadiah. Karena sebenarnya tanpanya kita masih bisa hidup. Kemudian, harta, keluarga, jabatan apalagi. Kita bisa hidup tanpa itu semua. Tapi yang terjadi pada diri kita adalah kita terkadang terlalu mencintai hadiah itu hingga merasa tak sanggup kehilangannya. Kita lupa pada Sang Pemberi Hadiah itu sendiri. Lihat saja keseharian kita. Kita sering menomorsekiankan Sang Pemberi Hadiah itu hanya untuk kepentingan hadiah. Ga papa lah sholatnya ntar dulu yang penting meeting ga telat. Ga usahlah sedekah dlu, mo nabung dlu buat investasi yang lain. Ga papalah ga dapet kasih sayang Tuhan but just don’t deprive me of the one i love. Begitulah tabiat manusia.
Tak salah memang ketika kita mencintai sebuah hadiah. Yang menjadi masalah adalah meletakkan rasa cinta pada hadiah itu di dalam hati kita. Padahal definisi zuhud itu adalah meletakkan dunia di tangan bukan di hati. Mengapa demikian? Ketika mencintai sesuatu dengan hati maka kita akan sulit kehilangan. Rasa sakit dan penderitaan yang ditimbulkan akan berdampak parah pada kehidupan kita. Kalau kata lagu barat “losing u is like living in a world without air”. Sudahkah terbayang bagaimana rasanya?akan sangat sulit melanjutkan hidup. Berbeda ketika mencintai sesuatu yang kita letakkan di tangan. Tetap akan menangis dan merasa sedih tapi rasanya berbeda. Ada pengertian yang tertanam dalam diri bahwa suatu saat akan mendapatkan ganti yang lebih baik. Dengan demikian kehilangan dunia tak mampu menggoyahkan keimanan yang ada di dalam hati.
Dengan demikian kita menyadari sepenuhnya bahwa bukan hadiah hadiah itu yang harus kita letakkan dalam ati kita tpi Allah, Sang Pemberi Hadiah. Lalu hadiah itu? Cukup diletakkan di kedua tangan kita sehingga lebih mudah untuk memberi, lebih mudah berbagidan lebih mudah untuk melepaskannya. Ya, begitulah seharusnya. Maka nikmat seperti apapun tak akan melenakan kita, ujian seperti apapun tak kan membuat kita bergeming. Karena hati kita hanya dipenuhi oleh rasa cinta kita kepadaNya. Kondisi itulah yang membuat kita tak pernah merasa merasakan broken heart dan semacamnya. Pertalian cinta dengan Allah ini adalah satu satunya ikatan yang kokoh dan tak kan pernah putus sesuai dg firmanNya:
“..barang siapa ingkar kepada taghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang amat kuat dan tidak akan pernah terputus…” (QS. 2: 256)

Tiba tiba sya teringat kejadian ketika kajian kamis sore di Daarush Sholihat. Seperti biasa, 15 menit terakhir ustadz syatori menerima pertanyaan dari jama’ah yang hadir. Beliau membuka secarik kertas (pasti pertanyaannya dari akhwat)
“ustadz, sya mencintai seorang ikhwan, sya berdoa supaya Allah mendekatkan kami bila kami memang berjodoh dan menjauhkan kami bila ternyata dia bukan jodoh sya. Boleh ga ustad sya berdoa begitu?”
Setelah diam sejenak beliau menjawab ” boleh, tapi itu doa orang yang hopeless (sya agak lupa istilah apa yg dipakai waktu itu tp artinya hampirsama kyak gini)” sontak suara gelak tawa jamaah( terutama ikhwan) membahana di seluruh sudut ruangan.
“Coba baayangkan, ketika seorang akhwat ketahuan mencintai seorang ikhwan harga dirinya turun ga?” sya akin ketika itu hampir semua org menawab iya dalam hati. “iya, mungkin harga dirinya turun. Atau setidaknya akhwat tersebut akn malu ketika bertemu sang ikhwan. Pun ketika ikhwan tersebut sudah bersama akhwat lain maka ia akan tetap memandang berbeda sang akhwat. Namun, apakah jadinya ara diri seorang akhwat akan turun ketika dia mengatakan pada ikhwan yang dicintainya (klo uda ketahuan) ‘iya, sya akui sya memang cinta sama antum. Tp sya selalu berdoa sama Allah semoga antum tidakakan pernah menjadi jodoh saya'”
Jamaah yang tadinya tertawa2 kecil kini diam. Mungkin yang ada di dalam benak mereka sama dgn yang sya pikirkan, berani sekali sang akhwat berdoa seperti itu. Benarkah dia tidak mau berjodoh dengan org yang dicintainya?? Mungkin itu yang terpikir. Sya pun tak bisa memahami doa itu. Apakah ada memang orang yang mampu seperti itu. Tp kini saya memahaminya.
Esensi doa itu sebenarnya adalah wujud rasa cinta sang akhwat pada panciptanya. Bahwa meski telah terjerumus dia tetap berusaha untuk membuat rasa cintanya under controlled. Bahwa satu satunya yang dia pertahankan untuk berada dalam hatinya hana Allah. Dia mungkin telah melakukan berbagai cara untuk menghapuskan cinta haram pada ikhwan tersebut. Tp dia mendapati dirinya tidak lagi mampu. Hingga dia hanya bisa berdoa supaya Allah tetap menjada rasa cinta itu hana untukNya. Pun ketika menikah, ia ingin justru tidak menikah dengan orang yang sudah dicintainya sejak lama itu karena ia takut bahwa pernikahan yang dilakukannya hanya berdasar pada cinta manusia yg semu. Dia ingin menggenapkan separuh agamanya itu benar benar untuk Tuhannya. Hanya karena rasa cintanya pada Sang Maha Cinta. Ya, kini aku memahaminya seperti itu. Aku memaami mengapa bisa menjadi seperti itu.

“Ya Allah, wahai Dzat yang mengetahui segala sesuatu yang terlahir dan tersembunyi, ampunilah dosa dan kesalahan yang kami perbuat. Maka tolonglah kami, maafkanlah kami atas segala perasaan dan prasangka yang tidak Kau sukai. Penuhilah hati kami dengan CintaMu, tentramkanlah qalbu kami dengan Kasih sayangMu”

Menikah…..

Entah kenapa pingin posting tentang hal yg satu ini. Hal yg paling banyak dibicarakan orang atau mungkin lebih tepatnya paling banyak dibicarakan para anak muda yg sedang galau ingin menikah tp masih punya begitu banyak pertimbangan. Alhasil mereka hanya mampu membicarakannya.. bukan melakukannya :-P.
Saya mencoba menganalisis dan membuat kesimpulan secara sepihak bahwa orang yg sangat bersemangat membicarakan pernikahan terutama tentang dengan siapa dia akan menikah justru adalah orang yg belum siap untuk menikah (mohon maaf kalau ternyata sy salah :-P). Saya mencoba memperhatikan bahwa mereka yg Cepat menikah justru mereka yg anteng anteng saja ketika para galauers sedang membicarakan tentang satu hal favorit ini. Dengan menulis akan hal ini mungkin saya pun termasuk orang yg belum siap untuk menikah. XD. eits… jangan salah, hal ini sudah terbukti lho..

Jadi.. apakah Anda termasuk orang yg hanya mampu membicarakan tentang pernikahan atau mampu melakukannya? tentunya hanya Anda yg mampu menjawab. tp apapun jawaban Anda, saya berharap bahwa Anda termasuk orang yg menyegerakan pernikahan. Menyegerakan bukan berarti terburu buru.
beberapa kutipan berikut mungkin cocok bagi Anda 😉

Bagi Anda, orang orang yg sedang jatuh cinta dan dimabuk asmara. Merasa dg sgt yakin bahwa Anda pasti akan menikahi kekasih Anda.. yakinlah bahwa Allah sudah menentukan jodoh Anda. Secinta cintanya anda pada sang kekasih kalau ternyata bukan jodoh ya ga bakalan jadi pasangan hidup anda. Jadi, jangan menyerahkan sepenuhnya hati anda kepada sang kekasih. (ini cuma saran 😉 )
Bagi Anda yg sebenarnya tak punya kekasih namun sedang berada dalam posisi mengharapkan seseorang mebjadi pasangan hidup anda, maka yakinlah bahwa Allah yg Maha Tau kepada siapa sebenarnya hati tertaut. Dia Maha Tau kualitas diri dan keimanan Anda. Dia tentunya lebih tau apakah Anda cocok dg yg Anda harapkan atau tidak. Tetaplah mencoba mencari pasangan.. jangan hanya terpaku pada orang yg Anda harapkan. Belum tentu juga dia melakukan hal yg sama :-P. Maka bukalah mata dan telinga Anda lebar lebar. Allah yg Maha Tau siapa yg akan membawa Anda mendekat padaNya.. entah orang yg Anda harapkan, yg sama sekali tidak diharapkan, orang dekat Anda, atau orang yg sama sekali tidak dikenal. Jadi.. santai sajalah 😉

Satu hal yg pasti adalah bahwa Allah tak akb pernah menyia nyiakan hambaNya yg sholeh. Teruslah berdoa. Teruslah berusaha. Yakinkan diri bahwa keputusan Allah adalah yg terbaik. sesakit atau sebahagia apapun yg dirasakan, keputusanNya selalu yg terbaik. Ingatlah saudaraku.. kita hanya mampu melihat ke sekitar kita. Banyak hal yg tentu tidak bisa kita lihat. Tp Dia melihat semuanya kawan… semuanya sampai yaunul akhir. masihkah kau meragukan keputusanNya..
maka segeralah menikah saudara saudara… motivasi yg harus ada adalah bahwa niatkan menikah ini adalah ibadah, menikah harus mampu menambah energi Anda untuk berkontribusi pd islam, menikah adalah langkah awal Anda membangun peradaban 😉

-ga kerasa uda nympe stasiun Tugu… dalam perjalanan malam dg kereta… dalam keindahan purnama dan kelap kelip lampu kota ;-)-

Home vs House

Tertarik membicarakan tentang rumah karena beberapa hri ini orang-orang di camp pada mellow karena pengen pulang, orang-orang di kelas bikin presentasi tentang rumah dan music of this week in confidence class is Home by Michael Buble..huff. Baiklah…lagu itu memang mempunyai lirik yang sangat lembut dan menyentuh dan semua orang di kelas belinangan air mata dibuatnya ( jadi inget..lagu selalu kita putar dikamar setiap hari klo pas lagi pengen pulang di jogja-missing my roommate)

Kata orang Home itu adalah tempat dimana kita kembali setelah melakukan aktivitas apapun, tempat berkumpulnya orang-orang yang kita cintai, tempat kita merasa nyaman. Ya..that’s home. Home itu tempat kita merasa bisa beristirahat dari segala kepenatan permasalahan maupun rutinitas.Jika sebuah rumah tak lagi membuat hati kita senantiasa tenteram ketika berada didalamnya maka that is not home, that’s just house. Hanya sebuah bangunan berupa rumah..tempat berlindung dari panas dan hujan. Bisa nangkep bedanya kan??

Kenyamanan yang kita rasakan bahkan tak bisa tergantikan oleh tempat lain.ada perasaan rindu yang mendalam jika terlalu lama kita berada di luar rumah. Bahkan si Michael Buble bilang “may be surrounded by a million people i still feel all alone, i just wanna go home”. huff..

But, Life is about choices…we have to choose our way with its risk. Adakalanya kita dihadapkan pilihan untuk berada jauh dari kenyamanan rumah yang kita bayangkan. yaa..begitulah hidup kita. mengenai pilihan hidup dan rumah ini, kelas kami membuat sedikit games. Begini ceritanya Albert adalah seorang pria berusia 25 tahun yang hanya mempunyai seorang ibu yang selalu memberikan big support bagi Albert.  Setelah perjuangan yang panjang Albert dapat memasuki Army Academy dan lulus dengan hasil memuaskan. Setelah lulus Albert bertemu dengan Jenderal, kemudian Sang Jenderal menawarkan beberapa hal (dapat dilihat di gambar). pada saat H-1 pelatihan sesorang menelepon dan mengatakan bahwa ibu Albert di opname. pilihan apa yang harus diambil oleh Albert? pulang atau tidak??

Dan jawaban paling banyak adalah pulang dengan kebanyakan alasan bahwa itu adalah salah satu bukti bakti kita kepada orang tua, kemudian kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi kepada Ibu..mungkin saja ia akan meninggal, kalau itu terjadi..maka meski memiliki kehidupan yang sempurna maka selamanya akan merasa menyesal. Jawaban ini tidak perlu dibahas panjang lebar karena ini jawaban yang sangat umum muncul.

Hal yang membuat kami terkejut adalah bahwa ada beberapa orang saja yang memilih untuk tidak pulang dengan alasan:

1. Menjadi sukses itu bukan hanya impian kita, tapi juga impian orang tua kit. Jadi kalaupun tidak pulang maka ibu akan mengerti

2. Ada kemungkinan ketika pulang ibu justru akan kecewa karena merasa telah menggagalkan impian anaknya. Kita lihat resiko yang diambil ketika pulang adalah sangat besar yaitu kehilangan mimpi kiita, membuat jenderal kecewa, dan kehilangan calon istri yang sempurna, sedangkan tak ada yang bisa kita ubah ketika pulang.Dengan begitu, kita mungkin akan kehilangan keduanya.

Keduanya bisa diterima memang karena itu pendapat pribadi. Setelah perdebatan panjang maka Sang Guru memberikan kesimpulan bahwa Beliau memilih pilihan ke tiga yaitu tidak benar-benar pulang dan tidak benar-benar tidak pulang. Hal yang mungkin dapat dilakukan Albert adalah sebagai berikut:

1. Tetap mengikuti Trainning

2. Meminta Ann (calon Istri) untuk menemani sang Ibu

3. Menghubungi Ibu dan meminta maaf  dengan memberikan penjelasan mengapa tidak bisa pulang

4. Jika kondisi Ibu tiba2 memburuk maka meminta toolung kepada jenderal (Calon mertua) untuk menyediakan alat transportasi khusus

Huugggg!!!Gubrak!!!seluruh kelas protes!!

kemudian beliau memberikan hikmah:

1. Terkadang dedikasi kita kepada seseorang tidak perlu ditunjukkan. Tapi lakukan!!Do something!!Act!! Kita bisa lihat golongan yang pulang adalah golongan yang ingin menunjukkan bakti kepada ibunya akan tetapi dia hanya sekadar datang,,tidak berbuat apa-apa. Golongan kedua adalah orang yang tau betul kondisi dan keinginan dari seseorang yang Ia baktikan sehingga ia berusaha untuk melakukan sesuatu bukan hanya untuk dirinya namun juga untuk orang /sesuatu yang ia dedikasikan.

2. Setiap pilihan dalam hidup kita mengandung resiko. Hal yang harus kita lakukan adalah mengetahui resiko dari pilihan kita kemudian berusaha mengatasinya. Berusahalah untuk memilih yang paling sedikit resikonya bagi diri kta dan orang lain.

3. kesempatan itu hanya datang sekali dalam hidup kita. Maka ketika ia datang bergegas dan raihlah. Terkadang kita butuh sedikit keberanian dan tidak perlu memikirkan terlalu banyak hal untuk melangkah. Tidak ada kata terlambat. Bergegaslah! Karena alam ini bergerak dengan kecepatannya, jika kita hanya diam maka akan tertinggal terlalu jauh kemudian terlupa.

4. Berpikirlah secara detail..kenali diri, gunakan kesempatan yang ada, manfaatkan kekuatan pribadi. PAndanglah sesuatu secara menyeluruh dan jeli, karena terkadang ada kekuatan yang luput dari perhatian kita karena kita terlalu fokus pada kebenaran umum

Mengutip dari teman “Jika ingin sukses, maka berfikirlah dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang”

Make Your First Move Now!!!!!!!!!!